Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

Cerpen Valentine: MY VALENTINE



Cerpen Valentine
14 Februari, 16:08 WITA

Semua bilang tak ada gunanya melihat ke masa lalu apalagi berharap kembali ke masa itu. Hidup berjalan kedepan bukannya mundur kebelakang, seperti arah jarum jam yang berputar ke kanan bukan ke kiri. Namun masikah kau memegang prinsip itu? Bila dalam kenyataanya, masa lalu lah yang membuat dirimu bertahan dan semangat menjalani hari-harimu…

***
Langit cerah menghiasi hari yang bersejarah ini. Hari dimana aku dan teman-temanku saat kecil, berkumpul kembali di tempat ini. Kami memutuskan memakai taman di dekat sekolah kami dulu. Tempat ini merupakan tempat yang menampung semua kenangan saat kami kecil. Saat kami belum mengerti arti hidup, saat kami belum mengerti arti sebuah perpisahan. Dulu aku sering sekali bermain bola disini bersama teman-teman kelasku.

Walau aku tak mengerti sepenuhnya tentang permainan sepak bola, tapi aku tetap bisa bermain. Karena aku tau, setiap permainan dimulai seseorang akan mengajariku dengan sabar. Walau aku selalu membuat permainan kacau, walau aku sering berlari (bukannya menangkap) bila ada bola yang menggelinding ke arahku, walau aku menangis bila bola sialan itu mengenai betis ku dengan keras, tapi seseorang itu tetap sabar mengajariku. Seseorang yang dari luar selalu bersikap dingin namun sebenarnya hatinya tulus. Seseorang yang memilih menjauh namun sejujurnya ia menemani yang terlupakan.

Kadang aku sering menghayal bertemu dengannya. Tapi kenyataan tak pernah berpihak padaku. Dan kini aku berharap bertemu dengannya. Terakhir aku melihatnya di acara perpisahan SD Santa Loka enam tahun yang lalu. Setelah itu aku tak mendengar kabarnya. Ia menghilang begitu saja, seperti angin yang berlalu tanpa meninggalkan jejak. Ya, aku rindu seseorang itu. Seseorang yang berulang tahun di hari ulang tahunku.

***
Pandanganku menyapu seluruh isi kelas. Tapi hasilnya tetap sama, aku tak melihat Danny dimana pun. Padahal hari ini ulang tahunnya. Kuperhatikan sekeliling, teman-teman terlihat asyik memakan kue yang tadi aku bagikan. Kemana dia disaat seperti ini? Disaat hari kelahirannya yang hanya terjadi sekali dalam setahun.

Dengan malas aku berjalan keluar kelas. Baju putih dan rok merahku terlihat kotor dengan krim-krim kue yang belepotan disana sini. Aku masih ingat bagaimana Lia, Sita, Andra, dan yang lain mengerjaiku dengan sadisnya. Padahal hari ini ulang tahunku. Seharusnya mereka bersikap baik padaku, walau hanya sehari.

“Anna, kuenya masih sisa nggak?”

Aku menoleh saat mendengar suara Andra. Tubuh Andra yang dua kali lipat dari ukuran tubuhku yang kurus ini terlihat seperti monster yang kelaparan. Tidak heran jika Andra meminta tambahan kue. “Masih setengah kok. Ambil aja, Ndra.” Kataku sambil beranjak pergi.

“Trims. Oh ya kamu pasti nyariin Danny kan? Tadi aku liat dia di taman belakang sama si Reno, lagi main-main nggak jelas.” ujar Andra sambil menekan kata Reno pada ucapannya.

Yah aku tau bagaimana teman-teman kelasku yang memandang Reno dengan sebelah mata. Hanya karena Reno berasal dari keluarga yang kurang mampu. Cukup naïf memang, tapi begitulah kenyataannya. “Oke deh, Ndra, aku nyari Danny dulu ya.”

Dan benar saja, aku melihat Danny sedang bermain lempar batu (permainan yang berlomba-lomba melempar batu sejauh mungkin untuk mengetahui pemenangnya) bersama Reno. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Danny memang berbeda dengan yang lain. Jika orang lain menjauhi Reno hanya karena Reno berasal dari keluarga yang kurang berada, Danny malah kebalikannya. Yang tanpa ia ketahui, hal itu membuat teman-teman yang lain ikut menjauhinya.

“Danny, kuenya mau aku anterin nggak?” teriakku keras. Bagaimana tidak keras, jarak ku berdiri sekarang dengan Danny cukuplah jauh. Aku tidak berani mendekat karena takut terkena lemparan batu. Melihat Danny yang masih sibuk dengan permainannya, aku pun kembali berteriak, “Gimana sih yang ultah malah main seenaknya aja? Capek tau ngurusin kue sendiri!”

Danny berhenti melempar batu lalu menoleh kepadaku. “Kan udah ada kamu. Murid di kelas juga nggak banyak. Lagian masih ada tahun depan, aku janji bakal bantuin deh.” ujarnya sambil tersenyum.
Aku pun hanya mendengus lalu berniat untuk pergi. Danny memang benar-benar bego atau pura-pura bego sih? Lima tahun aku sekelas dengannya—sekaligus lima kali merayakan ulang tahun bersama-sama di kelas—Danny tak pernah sekali pun bersikap seperti orang yang merayakan ulang tahun. Ia hanya mengikuti sampai acara tiup lilin. Dan saat memotong kue tart, akulah yang menjadi sasaran keganasan teman-teman dalam berebut kue.

“Anna….!”

“Apa lagi?” tanyaku galak.

“Boleh dong kuenya dibawain. Dua ya, satu buat aku satu buat Reno.”

Mataku berlahan menyipit. “Ambil aja sendiri!!” Seruku sambil menjulurkan lidah.

***
Aku tertawa mengingat sepotong kenangan manis itu. Kenangan yang membuat ku ingin kembali ke masa lalu. Ke masa dimana aku bersekolah di SD Santa Loka dan merayakan ulang tahun bersama Danny.

“Ketawa sendiri ntar dikira orang gila lho.” Tiba-tiba seseorang telah berada disampingku.
 
“Eh?” Aku terkejut mendengar laki-laki disampingku yang bersikap seolah-olah telah mengenalku lama. Alisku mengernyit, bingung akan tingkah orang ini.

“Lupa ya?” tanya laki-laki itu sambil tersenyum usil. “Aku bantu buat ngingetin, mau?”

Aku hanya tersenyum miris. Siapa laki-laki ini? Kulit putih bersih, tinggi kurang lebih 170cm—beda sepuluh centi sama aku yang 160 cm—alis tebal, dan di dahi terdapat bekas luka yang tak terlihat dari jauh. Jangan-jangan…

“Yang dulu selalu ngerayain ulang tahun bareng kamu, tapi nggak pernah ikutan saat potong kue..”

“Danny!!” teriakku senang dan sedetik kemudian aku sudah memeluk Danny saking senangnya. Sadar akan tingkahku, buru-buru aku melepas pelukanku. “Maaf..”

Danny hanya tertawa. “Ya ampun, Anna. Nggak nyangka kamu udah gede kayak gini. Pipi makin tembem aja nih.”

“Ini bukan tembem, tapi chubby tau.” Aku mengusap-usap pipiku.

Danny hanya menggeleng-geleng tak percaya lalu memandangku lama. Seketika suasana menjadi hening. Aku sendiri bingung harus bicara apa.

“Cieeee. Raja sama ratu ultah ketemu nih. Udah, Dan, tembak aja sekarang mumpung valetine’s day. Ntar keburu diambil orang di kampus barunya.” Jelas Andra yang tiba-tiba muncul dihadapanku dan diiringi teriakan teman-teman yang lain. Kulihat badan Andra tak ada bedanya saat SD dulu. Tetap saja subur..

Perlahan aku merasa pipiku mulai memanas. Dan entah perasaanku saja atau bukan, ku lihat wajah Danny berubah menjadi merah seperti tomat. Sialan Andra.

“Itu urusan gue, Ndra. Cukup gue sama Anna yang tau gimana hubungan kita ke depan.”

Ku dengar teriakan Lia dan Sita yang berubah menjadi histeris. Aku memasang tampang bingung. Sumpah, apa coba maksud Danny ngomong kayak gitu?

“Terserah lo deh, Dan. Awas aja kalo lo berani nyakitin Anna. Gue sama Sita nggak bakal tinggal diam,” ucap Lia yang ditimpali anggukan oleh Sita.

Ya ampuuun. Teman-temanku ini memang sakit jiwa semua. Baru lulus SMA aja ngomong udah ngaco kayak gini. Gimana nanti? Apa coba maksud omongan Lia yang minta Danny buat nggak nyakitin aku? Namun aku lebih memilih untuk diam tak berani menyuarakan protesku. Aku terlalu terkejut untuk mencerna semua ini.
 
“Okay guys.. Gue pergi sama Anna dulu ya.” Danny memegang tangan kiriku lalu kudengar Sita menyela, “Gue juga deh. Lagian Kevin udah nunggu gue buat ngerayain valentine sama dia.” Kulihat yang lain bersiap-siap untuk pergi dari taman ini.

“Tunggu. Terus reuninya gimana? Kita kan baru disini sekitar sejam?” Aku menatap semua orang terlebih Sita yang belum mengatakan bahwa ia sudah putus dengan pacarnya yang dulu.

“Kita bisa lanjutin lain kali,” ujar Sita singkat. Seperti menyadari sesuatu Sita lalu berteriak, “Annaaa.. Jangan bilang otak lo belum loading! Sekarang tuh hari Valentine. Semua udah punya acara sama gebetannya masing-masing. Dan lo juga punya acara sama Danny. Jadi nggak ada salahnya kalo…. hmpp hmpp!”

Aku pun menutup mulut Sita dengan tangan kanan ku. “Oke-oke. Gue ngerti kok.” Perlahan aku melepas tanganku. Sudah bukan rahasia lagi kalau Sita terkenal dengan omongannya yang panjang lebar. Benar kata Sita, aku lupa kalau hari ini adalah hari Valentine. Pantas semua buru-buru meninggalkan taman ini.

***
Dan semuanya berjalan seperti mimpi. Kini aku sudah berada di salah satu restoran yang terkenal romantis karena desain ruangannya yang bergaya ala Paris di musim gugur. Kulihat restoran ini penuh dengan pasangan-pasangan dinner yang merayakan Valentine sama seperti aku. Tanpa sadar senyum menghiasi wajahku.

“Hayo lagi mikir apa?” Suara Danny menyadarkan lamunanku.

“Rahasia dong..” jawabku sambil menatap Danny dengan senyum yang tertahan.

“Iya deh yang lagi main rahasia. Kamu mau makan apa?”
 
“Terserah kamu aja,” ujarku singkat.

Sementara Danny menyampaikan pesanannya kepada pelayan, aku hanya bisa tersenyum memandang orang yang lalu lalang di luar restoran. Setelah enam tahun tidak merayakannya, sepertinya tahun ini aku kembali menjalani ritual SD dulu. Bulan depan aku akan merayakan ulang tahunku bersama Danny. Ia berjanji tidak akan menghilang setelah acara tiup lilin. Awas saja kalo dia menghilang, aku akan memecatnya sebagai pacarku.

Ya, mulai malam ini aku dan Danny resmi terikat satu sama lain.

***

CERPEN ROMANTIS - KATA TERAKHIR


Dina menatap kosong papan tulis di hadapannya. Bukan karena papan tulis itu bersih tapi justru karena penuh catatan bejibun rumus kalkulus yang dimata Dina lebih mirip hieroglyph. “Waduh, bisa cepet tua nih aku kalo kayak gini mulu,” gumam Dina.





 “Perasaan tiap hari kamu ngomong gitu terus deh..”

Dina menoleh pada cowok di sampingnya. “Oh ya? Masa sih?”

“Yaelaah... “ tukas Ravi sambil geleng-geleng kepala. Takjub.

“Pak Darman tuh hobi banget sih nyiksa orang pake rumus-rumus gitu? Tiap hari lagi ! Kayaknya tuh orang ngerasa nggak afdol kali ya kalo belum mamerin spesies rumus-rumus di kelas,” lanjut Dina menggerutu.

“Alaa.. masi mendingan juga kalian-kalian ini yang notabene cewek. Bapak itu kan rada jelatatan, pilih kasih kalo sama cewek. Liat ada yang ‘bagus’ dikit aja pasti langsung di uber deh..”

Dina mengernyitkan dahinya. Heran. “Tahu darimana kamu, Rav ?”

“Hahahaa.. topik basi, tahu ! Kadang juga aku heran lho. Cakep juga enggak. Tajir? Lumayanlah.. Kulitnya juga sawo matang, nggak putih. Kalo urusan keren.. Apalagi. Nggak banget deh. Tapi kok bapak itu pede bener yah terang-terangan menganak-emaskan cewek-cewek. Dasar hidung belang. Apalagi sama si Nabila. Nilai-nilai kalkulus Nabila juga bagus-bagus lho katanya,” seloroh Ravi tanpa dosa.

“Heh ! Kurang ajar sama orang tua, kualat lho ntar.. terus apa tadi ? Sawo matang? Udah bukan sawo matang lagi kali, tapi kayak biji sawo! ”

“Sekarang siapa yang kurang ajar?” balas Ravi. Dina hanya menimpali dengan senyum masam, apalagi setelah nama Nabila disebut-sebut. Langsung menyeret tingkat moody-nya pada level yang paling dasar. Hatinya sakit saat mendengar nama itu di sebut. Betapa tidak ? Dina harus mengenyahkan kenyataan bahwa hubungan asmaranya dengan Ardi yang umurnya udah hampir 3 taun harus putus karena Ardi nyeleweng. Dan cewek yang berstatus sebagai orang ketiga itu.. Nabila. Yah, siapa lagi. Cantik, langsing, putih, rambut panjang, tajir ! Wow, bener-bener tipekal yang perfect abis buat sebagian cowok. Apalagi cowok macem Ardi yang tabiatnya emang suka pamer. Sayang Nabila otaknya kosong. Dina inget pas mereka baru jadian (di hari yang sama saat Dina-Ardi putus), Ardi lewat di depannya sambil memberikan ekspresi ‘kamu-nggak-ada-apa-apanya-dibandingin-Nabila’ melenggang santai sambil membiarkan si cewek plastik itu bergelayut manja di salah satu lengannya. Oh-oh.. Cewek plastik? Ya, tentunya Dina punya alasan kenapa panggilan itu lebih pas. Demi menunjang penampilan yang ngebuat cowok nggak berkedip, Nabila rela tubuhnya mendapat suntikan di bagian sana sini. Rupiah jelas bukan masalah buat dia.

“Ngapain kalian berdua masih di sini? Bukannya kuliah Pak Darman udah kelar dari tadi?”

Deg ! Dina hapal betul suara siapa itu. Ardi. Panjang umur nih cowok, baru juga di batin. “Lagi nyatet aja. Lo bisa lihat sendiri kan? Itu juga kalo lo punya mata,” jawab Ravi dingin. Ravi satu-satunya sahabat cowok Dina yang paling ‘ngerti’ apa dan bagaimana seorang Arindina. Dia bahkan nyaris nonjok Ardi pas Dina cerita mereka putus karena si cewek plastik.

Sadar pertanyaannya disambut dengan tajam sama Ravi, Ardi malah cuek duduk di depan Dina dan sambil tersenyum (yang pastinya dibuat-buat) dia bilang, “ Hai Din. Lama ya nggak ngobrol. Apa kabar ? ”

Gimana cara menjawab pertanyaan sederhana tadi ya? Kalo itu datang pada saat yang biasa, dari orang yang biasa saja dan dalam situasi yang biasa juga, mungkin jawabannya juga pasti bakal biasa aja. Well, pastinya Dina nggak bisa bilang,” Baik, thanks.” Sementara sebenernya pengen banget jawab, “Nggak ada urusannya sama kamu, cowok brengsek !!” Tapi tentu bagi jenis cewek baik-baik macam dia, memalukan kalo tata kramanya harus hancur cuma gara-gara hal sepele. Nggak level dong. Akhirnya dia jawab,”Kayak yang kamu lihat,” dengan ekspresi sebeku es di Antartika. Dingin.

Ini emang bukan kali pertama Ardi nyamperin Dina pasca insiden putusnya dua sejoli itu. Seenggaknya dalam sebulan terakhir ini, rutinitas Ardi nyamperin Dina makin sering. Hampir lebih sering dari jadwal orang minum obat. Meski Dina cuek, tapi reaksi Ravi berbeda. Ravi terkesan lebih agresif pada momen-momen tertentu saat mereka bertiga ada dalam lingkup dimensi yang sama. Cowok maskulin itu jelas-jelas memposisikan dirinya sebagai tameng bagi Dina. Ardi tahu betul benih cinta buat Dina sudah tertanam lama di hati Ravi. Benih itu mulai tumbuh seiring retaknya jalinan kasih Dina-Ardi. Sayangnya, mata Dina terlalu rabun buat melihat binar-binar ketulusan di mata Ravi. Dina juga nggak peka menangkap pendar-pendar cinta di setiap tatapan Ravi. Lubang di hati Dina masih terlalu sakit hingga membutakan nalurinya.

“Kamu masih sayang sama dia, Din ?” tanya Ravi lirih setelah Ardi hengkang dari sana.

“Enggak sama sekali..” jawab Dina perlahan. Ada keraguan yang sarat di sana. Tentu saja enggak mungkin dia langsung bisa ngelupain Ardi, cinta pertamanya itu begitu saja. Sosok Ardi masih menjadi batu sandungan baginya. Bahkan kapanpun Dina merasa semangat hidupnya melemah, dia cukup mengeluarkan foto Ardi (yang masih sengaja disimpannya) kemudian melakukan sayatan-sayatan di foto itu dengan silet sambil meracau sumpah serapah atau bahkan kutukan dan dijamin semangat Dina bakal langsung melejit seenggaknya 100 persen.

“Aku.. “ ucap Ravi ragu-ragu. Dina bingung melihat mimik wajah Ravi yang kontan berubah pucat. “Kenapa, Rav ?” tanya Dina khawatir.

“Aku.. Aku suka kamu, Din.”

Hening.

“Aku nggak tahu sejak kapan, tapi aku sayang kamu, Din. Sekarang. Mudah-mudahan sih sampe nanti-nanti..” Pengakuan polos Ravi kontan membuat Dina dag-dig-dug-der. Andai tubuhnya itu komputer mungkin langsung shut down saat itu juga. Dina merasa ini sesuatu yang salah. Bukankah mereka bersahabat ? Bukankah Ravi tahu Dina baru putus dari Ardi 5 bulan lalu setelah 3 tahun jalinan kasih mereka ?

Dunia selalu bergulir dengan cara yang aneh. Susah ditebak. Memang takdir atau hanya kebetulan semata, siapa yang tahu? Siapa yang berani menebak? Barangkali hal yang kita anggap sepele sekalipun di masa depan nantinya akan memberikan dampak yang luar biasa. Teorinya, memang begitu. Nggak ada yang dapat benar-benar di salahkan. Lantas, apa perasaan Ravi itu salah ? Kalo itu salah kenapa Dina merasa bahwa perasaan yang salah itu adalah hal yang benar ? Berbagai pikiran ayik singgah di kepala Dina. Bermain kejar-kejaran membuyarkan logikanya dan seakan mereka berkata mengejek ,” Apa hati kamu udah bener-bener buta, Arindina ? Ternyata bukan hanya jatuh cinta tapi patah hati juga bisa membuat seseorang menjadi buta dan tuli di saat yang bersamaan sekaligus !”

“Kalo kamu nggak mau ngomong apa-apa.. nggak masalah kok,” tukas Ravi sambil tersenyum. Senyuman memabukkan yang kalo di pamerin ke cewek lain (selain Dina yang udah terbiasa dapet senyum kayak gitu) pasti bakal bikin cewek-cewek pada ber-ahh dan ber-ohh saking manisnya. “Dina, aku balik duluan ya. Ada perlu ke toko buku,” lanjut Ravi gugup sambil beranjak dari sisi Dina.

Dina beranjak dari kelas dengan ogah-ogahan. “Dinaa..” panggil Ardi saat Dina melintas di koridor. “Kenapa lagi ?” balasnya jutek. “Aku mau ngomong bentar. Bisa kan, Din ?” sambung Ardi gelagapan.

“Ya udah buruan ngomong.”

“Ehm.. ngomong di tempat lain aja ya. Gimana kalo di cafe kita yang biasanya aja?”

“Ngomong sekarang atau nggak usah sekalian !” tegas Dina galak. Dengan raut terpaksa, Ardi akhirnya bilang tentang keinginannya buat balikan sama Dina. Nggak ketinggalan sekilas info mengenai tingkah laku dan perlakuan Nabila ke Ardi yang lebih mirip tuan putri pada pembokatnya.
* * *

Dina melangkah pelan (mungkin lebih tepatnya merayap saking leletnya) menuju jalan raya di depan kampus. Pikirannya kacau apalagi setelah pengakuan Ardi barusan. Dina nggak sadar sebuah Honda Jazz melaju dengan kecepatan cahaya menuju ke arahnya. Pada detik yang sama, sepasang lengan kekar meraup tubuhnya dan dengan sekali hentakan melentingkan tubuh Dina ke tepi. Seperti kilat, segala sesuatunya terjadi begitu cepat. Jalanan langsung ramai. Semua orang tumpah ruah disana bak lautan manuia. Penasaran, Dina pun mendekat berusaha menyeruak diantara lautan manusia dadakan itu sambil menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Serasa di hantam batu seberat 1 ton, Dina menatap tubuh terkapar di hadapannya. Ravi. Darah segar mengucur dari pelipis kirinya. Ingin rasanya menjerit tapi kerongkongannya tercekat. Dina hanya mampu terpaku, membatu di tepi jalan sampai sebuah ambulans mengangkut tubuh Ravi.

Ravi, sahabat terbaiknya itu kini terbaring lemah di ICU. Cowok yang beberapa saat lalu baru saja menyatakan perasaannya pada Dina itu kini tengah meregang nyawa karenanya. Dina terluka. Bukan fisik, tapi batin. Harapan itu memang masih ada. Harapan untuk dapat memupuk kembali bunga cintanya bersama Ardi yang dulu sempat layu. Jauh di dalam hatinya nama Ardi memang masih terukir manis. Meski nggak lagi semanis dulu. Tapi biar bagaimanapun Ardi adalah cinta pertamanya. Dan kayaknya 5 bulan itu waktu yang nggak cukup buat sekadar mengenyahkan bayang-bayang Ardi yang emang udah nongkrong tahunan di hatinya. Di saat yang sama, lubang di hati Dina menganga kembali, menghadirkan atmosfer pilu yang menyayat perih hatinya. Lubang yang selama 5 bulan terakhir ini menguras air matanya.
***