Jumat, 25 November 2011

TENUN IKAT




Kain-kain tenun yang dihasilkan dari masa ke masa memperlihatkan dengan jelas betapa tingginya kemampuan seni hias yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa Indonesia adalah khasanah keanekaragaman teknik dan seni kain yang paling lengkap di muka bumi ini. Setiap daerah bahkan lingkungan memiliki ungkapan keindahannya sendiri dalam membuat dan menghias kain-kain kebutuhan masyarakatnya. Ada yang hanya menenun, ada yang menggunakan teknik-teknik sulam, sungkit, manik-manik, perca, celup, beserta berbagai ragam gabungannya dan masih banyak lagi seni-seni pembuatan kain lainnya. Namun yang paling banyak mendapat perhatian dan pengakuan sejauh ini, khususnya di bidang menghias dengan teknik tenun adalah tenun ikat dan songket.
Daerah penghasil tenunan ini antara lain pedalaman Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur. Menurut para ahli, daerah-daerah tersebut tercatat paling awal dalam mengembangkan corak tenun yang rumit. Mereka mempunyai kemampuan membuat alat-alat tenun, menciptakan desain dengan mengikat bagian-bagian tertentu dari benang dan mengenal pula pencelupan warna.
Ada beberapa cara pembuatan kain tenun ikat, namun pengertian mendasar tentang tenun ikat adalah mengikat bagian-bagian tertentu dari benang agar tidak terkena zat warna saat dicelup. Bagian-bagian yang tidak terikat akan berubah warna sesuai dengan warna cairan celupnya.
·         Jenis-jenis  Kain Tenun Ikat
Kain ikat berdasarkan jenis benang yang dikerjakan dengan pengikatan dapat dibedakan atas :
1)     Kain ikat lusi
Kain tenun desain ikat lusi adalah kain bermotif yang motifnya dibentuk dengan teknik ikat, yaitu dengan jalan mengikat susunan benang pada tempat-tempat tertentu kemudian diberi warna dengan jalan mencelup. Bagian-bagian yang diikat tidak akan tercelup, sedangkan bagian yang tidak diikat akan tercelup. Setelah ikatan dibuka maka bagian-bagian yang diikat warnanya tetap seperti warna benang asal, sedangkan yang tidak diikat akan berubah warnanya. Dengan demikian maka terbentuklah motif-motif tertentu sesuai dengan motif yang telah direncanakan.
Daerah-daerah yang terkenal maupun pernah terkenal dengan produksi kain ikat lusinya antara lain Nusa Tenggara Timur yaitu Pulau Sumba, Pulau Rote, Pulau Palu dan sekitarnya. Di luar daerah tersebut juga dapat dijumpai di Maluku, Tanah Toraja, pedalaman Kalimantan, sekitar Danau Toba. Di Pulau Jawa dapat dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
2)     Kain ikat pakan
Pada tenun ikat pakan, benang pakan yang sudah selesai diikat, dicelup dan dilepas ikatannya, lalu digulung pada palet-palet. Kemudian benang pakan itu akan disilangkan dengan benang lusi yang telah disiapkan melalui proses pertenunan. Jadi jelas pada tenun ikat pakan, benang lusinya polos, namun bisa saja terdiri atas susunan satu atau lebih dari satu warna.
3)     Kain ikat ganda
Kain yang mempunyai motif dari perpaduan antara benang pakan dan benang lusi ikat disebut kain ikat ganda atau kain double ikat. Kain semacam ini terdapat di Pulau Bali. Kain double ikat jarang sekali dibuat, karena menenunnya sangat sulit dan jika penenunnya tidak tepat maka motif yang didapat akan rusak.


Baca Artikel lainya:

0 comments:

Poskan Komentar