Senin, 30 Oktober 2017

Perkembangan Batik di Kab. Batang


Industri batik di Batang saat ini mencapai 96 unit usaha yang terdiri atas 56 unit usaha batik tulis dan 40 unit usaha batik cap. Industri batik di Batang mampu menyerap kurang lebih 240 tenaga kerja yang tersebar di kelurahan Kauman,Proyonanggan Selatan, Kasepuhan, Kecepak, Warungasem, Masin, Banjiran dan Karangasem yang telah menempatkan diri di tengah-tengah kehidupan ekonomi marginal berusaha merekrut para ibu-ibu muda dan setengah baya untuk dipekerjakan sebagai pembatik. Tidak ketinggalan pula para laki-laki yang kebetulan sudah berstatus sebagai bapak dipekerjakan dibagian finising atau yang biasa disebut sebagai kuli keceh (bagian proses batik yang berkaitan dengan pewarnaan menyeluruh).  

Terjadilah hubungan antara saudagar dan buruh yang bersifat kemitraan,  sebab tidak jarang para saudagar atau pengrajin lebih cocok mempekerjakan anggota keluarga sendiri dalam memperlancar arus dan proses produksi Proses pembuatan batik di Kabupaten Batang sebagian besar masih dilakukan dengan cara tradisional sehingga me miliki nilai khas, artistik, dan segmen tersendiri di pasar nasional maupun mancanegara. Industri batik Kab. Batang saat ini sudah terkenal di tingkat nasional dan mancanegara sehingga menjadi produk unggulan di Kabupaten Batang. Karena itu, pengusaha diminta selalu meningkat kan kualitas, mode, dan tren.

 
Pengaruh Motif Batik dari daerah lain terhadap Motif Batik Batang.

Motif batik Batang tidak jauh berbeda dengan batik pada umumnya dari kota-kota yang berbeda. Selanjutnya motif-motif tersebut diperkaya oleh kepentingan yang berkaitan dengan kedaerahan maupun kepentingan histories, filisofis serta religi yang membutuhkan dan dibalut estetis maka pemakai untuk mencapai tujuan luhur. Berawal dari batik Gringsing yang merupakan cikal bakal dari Batang kemudian berkembang sejalan dengan dan terinspirasi dari kota-kota lain yang mempunyai sentra batik.

     Batik Batang mengenal ragam hias  segitiga yang bahasa jawa disebut “ tumpal “. Sesungguhnya ragam tersebut bermakna sebagai lambang kekuasaan, tumpal segitiga menggambarkan bahwa makin keatas makin kecil dan mengerucut itu berarti bahwa yang paling puncak adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Kritik sumber menyebutkan bahwa ragam hias atau motif segitiga berasal dari India yang merupakan stirilisasi gigi buaya sebagai lambang penolak balak malapetaka. Motif seterusnya yang mempengaruhi Batang ialah motif Cemplokan ,padmasabha dan kawung.

Stirilisasi pola pada batik pesisiran  yang mendapatkan pengaruh dari lingkungan alam seperti terjadi di Rembang untuk batik “ kapal kandas “ dan di Lasem untuk batik tritis “ merambah juga ke Batang yang sama-sama masuk kategori pesisiran. Sehingga batik Batang yang di produksi oleh para saudagar dan bermukim di dekat pesisir seperti Kel.  Karangasem menghasilkan motif batik sangat kental dengan gaya pesisiran, bahkan diperkaya dengan ragam hias lainya seperti perahu pecaling, ombak-ombak laut dan juga gunung-gunung yang dilengkapi dengan hiasan salur rambat. Berkaitan dengan pesisiran yang identik sebagai pelabuhan niaga pedagang, maka batik batang juga tidat lepas dari motif ragam hias batik-batik Cina ialah stirilisasi bentuk-bentuk keramik dan visualisasi lain yang merupakan ikon-ikon budaya Cina.              


Baca Artikel lainya:

0 comments:

Posting Komentar