Jumat, 28 Oktober 2011

PENYEMPURNAAN TOLAK AIR PADA KAIN KAPAS, POLIESTER, DAN POLIESTER/KAPAS DENGAN SENYAWA SILIKON DAN FLUOROKARBON



 
1.      MAKSUD DAN TUJUAN
1.1.        MAKSUD
Melakukan penyempurnaan tolak air pada kain kapas, poliester, dan polyester/kapas (P/K) dengan menggunakan resin silicon dan fluorokarbon agar diperoleh kain yang bersifat menolak air (water repellent) dan melakukan evaluasi hasil penyempurnaan berdasarkan uji tolak air.

1.2.         TUJUAN
Mempelajari prinsip proses penyempurnaan tolak air pada kain kapas, poliester, dan polyester/kapas, mengetahui perbedaan hasil tolak air dengan penggunaan resin silicon dan fluorocarbon, serta membandingkan hasil tolak air antara kain yang mengalami pencucian dengan kain yang tidak mengalami pencucian.

2.      TEORI DASAR
2.1.        SERAT KAPAS
Kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka sifat sifat kimia kapas adalah sifat sifat kimia selulosa. Serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian yang normal tetapi beberapa zat pengoksidasi atau penghidrolisa menyebabkan kerusakan berupa penurunan kekuatan. Asam asam menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan hidrolisa dalam rantai selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat dalam larutan meyebabkan degradasi yang cepat, sedangkan larutan yang encer apabila dibiarkan mengering pada serat akan menyebabkan penurunan kekuatan. Alkali mempunyai sdikit pengaruh terhadap kapas, kecuali alkali kuat dengan konsentrasi tingi menyebabkan penggelembungan yang besar pada serat, seperti proses merserisasi.

Struktur kimia
Analisa serat kapas menunjukkan bahwa serat kapas terutama tersusun atas selulosa. Selulosa merupakan polimer linier yang tersusun dari kondensasi molekul-molekul glukosa. Derajat polimerisasi selulosa pada kapas terdiri dari:
Ë selulosa                       : 94,0%
Ë proteina                       : 1,3%
Ë pektat                          : 1,2%
Ë lilin                               : 0,6%
Ë abu                              : 1,2%
Ë pigmen dan zat lain     : 1,7%

Apapun sumbernya derivat selulosa secara prinsif memiliki struktur kimia yang sama. Hal ini bisa terlihat pada analisa hidrolisis, asetolisis dan metilasi yang menunjukan bahwa selulosa pada dasarnya mengandung residu anhidroglukosa. Subsequent tersebut menyesun molekul glukosa(monosakarida) dalam bentuk  β-glukopironase dan berikatan bersama-sama yang dihubungkan pada posisi 1 dan 4 atom karbon molekulnya. Formula unit pengulanganya menyerupai selobiosa (disakarida) yang kemudian membentuk selulosa (polisakarida).

Sifat – sifat Serat kapas
Sifat Fisika
Ë Warna
Warna kapas tidak betul -  betul putih, biasanya sedikit kream. Warna kapas  akan makin tua setelah penyimpanan selama 2-5 tahun. Karena pengaruh cuaca yang lama, debu dan kotoran, warna kapas akan keabu – abuan strsnya sampai 1,50 – 1,56.
Ë Kekuatan
Kekuatan kapas dipengaruhi oleh kadar selulosa, panjang rantai, dan orientasinya. Kekuatan serat kapas per bandel rata-rata 96700 pound per inchi ² dengan minimum 70000 dan maksimum 116000 pound per inchi².
Ë Mulur
Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi, kira-kira dua kali mulur ram. Mulur rata-rata serat kapas 7%
Ë Keliatan (Toughness)
Keliatan serat kapas relatif tinggi. Sutera dan wol relatif lebih tinggi.
Ë Kekakuan (Stiffness)
Kekakuan dipengaruhi berat molekul, kekakuan rantai selulosa, derajat kristalinitas dan terutama derajat orientasi rantai selulosa.
Ë Moisture Regain
Moisture Regain serat kapas berfariasi tergantung kondisi serat.
Ë Berat Jenis
Berat jenis serat kapas 1,5-1,56
Ë Indeks Bias
Indeks Bias serat kapas sejak sumbu serat 1,58, indeks bias melintang sumbu serat 1,53.

Sifat Kimia
Kapas sebagian besar tersusun atas selulosa, maka sifat-sifat kimia kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan dan pemakaian yang normal. Beberapa zat pengoksidasi dan penghidrolisa akan merusak kapas sehingga kekuatannya menjadi turun. Kerusakn karena oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa, biasanya terjadi pada pengelantangan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab atau pemanasan yang lama pada suhu diatas 140°C .

Asam- asam menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan glukosa dalam rantai selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat menyebabkan degredasi yang cepat, larutan encer menyebabkan penurunan kekuatan. Alkali kuat dengan konsentrasi tinggi menyebabkan penggelembungan yang besar pada serat. Untuk menahan penggelembungan serat kapas keluar sehingga lumennya tertutup, irisan lintang menjadi lebih bulat, puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau sehingga dilakukan mercerisasi. Denagn hal itu, kapas menjadi lebih kuat dan afinitas terhadap zat warna menjadi lebih kuat. Kapas mudah diserap oleh jamur dan bakteri terutama pada keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.
                                                                                                                                  
2.2.        SERAT POLIESTER
Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester dan memiliki keteraturan struktur rantai yang menyebabkan rantai-rantai mampu saling berdekatan,sehingga gaya antar rantai polimer poliester dapat bekerja membentuk struktur yang teratur. Poliester merupakan serat sintetik yang bersifat hidrofob karena terjadi ikatan hidrogen antara gugus – OH dan gugus – COOH  dalam molekul tersebut.Oleh karena itu serat polierter sulit didekati air atau zat warna.Serat ini dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol.




Reaksi pembentukan polyester

Sifat polyester
Sifat fisika
Ë Elektrostatik
Serat poliester sangat menimbulkan elektrstatik selama proses. Selain itu kain poliester bila bersentuhan dengan kulit akan menyebabkan timbulnya listrik statis. Oleh karena itu perlu ditambahkan sifat anti statik pada serat poliester
Ë Berat jenis
Berat jenis polyester adalah 1,38 g/cm3.
Ë Kekuatan tarik dan mulur
Kekuatan tarik serat polyester sekitar 4.5 – 7.5 g/denier, sedangkan mulurnya berkisar antara 25 % sampai 75 %.
Ë Morfologi
Serat poliester berbentuk silinder dengan penampang melintang bulat.
Ë Moisture Regain
Pada kondisi standar, yaitu RH 65 ± 2 % dan suhu 20 oC ± 1 % moisture regain serat polyester hanya 0.4 % sedangkan RH 100 % moisture regainnya  mencapai 0.6 % - 0.8 %
Ë Derajat kristalinitas
Derajat kristalinitas adalah faktor penting untuk serat poliester,karena derajat kristalinitas serat sangat berpengaruh pada serap zat warna ,mulur, kekeuatan tarik,stabilitas dimensi, serta sifat-sifat lainya.
Ë Pengaruh panas
Serat poliester tahan terhadap panas sampaipada suhu 220 oC, diatas suhu ini akanmwemepengaruhi kekuatan, mulur, dan warnanya menjadi kekuningan. Suhu 230-240 oC menyebabkan poliester melunak, suhu 260 oC menyebabkan poliester meleleh.
Ë Sifat Elastis
Poliester memiliki sifat elastisitas yang baik dan ketahanan kusut yang baik.

Sifat Kimia
Ë Ketahanan terhadap asam dan alkali
a.   Polister tahan terhadap alkali lemah, tapi kurang tahan terhadap alkali kuat akan menghidrolisa esternya.
b.   Polyester tahan terhadap asam lemah meskipun pada suhu tinggi dan tahan terhadap asam kuat pada suhu rendah.
Ë Titik leleh polyester pada suhu 2500C dan tidak menguning pada suhu tersebut.
Ë Zat organik, beberapa zat organic akan melarutkan polieter antara lain metakresol, asam triflouroasetat–klorofenil dan campuran triokhlorofenol dengan fenol dan campuran tetra kloro etana dengan fenol.

2.3.        PENYEMPURNAAN TOLAK AIR
Penyempurnaan tolak air merupakan salah satu proses penyempurnaan yang tertua dan paling banyak dilakukan pada penyempurnaan tekstil. Jas hujan, pakaian olahraga, pakaian kerja, berbagai macam bahan tekstil untuk kegiatan outdoor, bahkan hingga kain pelapis dan kain-kain berat banyak yang memerlukan penyempurnaan tolak air.

Salah satu prasyarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan hasil penyempurnaan tolak air yang baik adalah persiapan penyempurnaan yang baik, mengingat banyaknya zat-zat pembantu tekstil yang dapat mempengaruhi efek tolak air. Zat-zat tersebut antara lain adalah surfaktan dan deterjen yang banyak digunakan dalam proses persiapan penyempurnaan dan pencelupan. Sejumlah kecil surfaktan (0,005%) yang tertinggal pada bahan sudah dapat mengurangi efek tolak air secara nyata. Ini menunjukkan betapa penting sesungguhnya penghilangan zat-zat tersebut secara tuntas dan sempurna dari bahan yang akan dikerjakan penyempurnaan tolak air. Campuran deterjen anionik dan non-ionik telah terbukti ampuh menghilangkan sisa-sisa zat-zat hidrofilik yang tidak dapat dihilangkan dari bahan dengan pembilasan biasa.
Tergantung pada tujuan akhir pemakaiannya maka pengujian tolak air dapat dilakukan dengan cara uji siram atau Bundesmann. Uji siram tidak dapat memberikan hasil secara eksak akan tetapi memungkinkan dilakukannya evaluasi kemampuan tolak air kain secara sederhana dan cepat. Cara uji ini hanya sesuai untuk produk dengan daya tolak air cukup hingga sedang, karena cara ini tidak lagi mampu membedakan antara yang sedang dan baik.

Untuk produk dengan spesifikasi tolak air tinggi cara uji yang digunakan biasanya adalah Bundesman, dan suatu produk dikatakan memiliki daya tolak air tinggi bila rating-nya mendekati lima, misalnya untuk jas hujan, yang artinya setelah 10 menit uji hujan Bundesmann (suatu kondisi yang ekivalen dengan hujan lebat selama 2 jam atau hujan biasa selama 24 jam terus-menerus) tidak ada tanda basah yang tampak pada kain.

Konstruksi kain memiliki peran menentukan ketahanan-rembes (impermeability) kain. Bila kerapatan kain dirasa kurang dan masih memungkinkan terjadinya perembesan, maka perlu dipertimbangkan untuk menggunakan zat pengisi berupa dispersi polimer yang akan bekerja ”menambal“ pori-pori kain yang terlalu besar. Namun demikian, perlu diingat bahwa penutupan pori-pori tersebut oleh zat pengisi juga berakibat pada berkurangnya daya tembus udara yang dapat mengurangi kenyamanan pakai kain, dan ini menjadi penting terutama untuk produk-produk sandang.

Beberapa zat kimia yang dapat digunakan untuk menghasilkan efek tolak air baik yang permanen ataupun semi-permanen antara lain adalah emulsi parafin yang mengandung garam-garam aluminum (Ramasit K), emulsi parafin yang mengandung garam-garam zirkonium (Pesristol E), senyawa N-metilol urea dengan residu asam lemak tinggi (Persistol HP; asam lemak: C17H35-CO-), hidrogenmetil atau dimetil polisiloksan, dan senyawa fluorokarbon. Berbeda dengan senyawa-senyawa tolak air lain, fluorokarbon juga memiliki kemampuan untuk menolak minyak.

Dari pemahaman kita mengenai peristiwa dan teori pembasahan permukaan bahan dapat disimpulkan bahwa pembasahan dapat dicegah dengan cara menurunkan tegangan permukaannya, dan ini dapat dilakukan dengan cara memodifikasi sifat permukaan bahan. Salah satu caranya adalah dengan melapisi permukaan bahan dengan suatu lapisan film yang tegangan permukaannya lebih rendah. Cara lain adalah dengan menempelkan secara tegak lurus molekul-molekul pendek yang salah satu ujungnya memiliki gugus penolak air pada permukaan bahan membentuk semacam bulu-bulu molekuler bersifat hidrofobik. Dengan cara ini sifat-sifat mekanik seperti kelenturan dan kelemasan kain serta daya tembus udara (yang berhubungan dengan kenyamanan pakai kain) tidak terpengaruh. Baik lapisan film maupun bulu-bulu molekuler, keduanya membutuhkan sifat hidrokarbon (dengan gugus-gugus yang memiliki tegangan permukaan lebih rendah seperti =CH2, -CH3 atau rantai-rantai yang diperfluorinasi) untuk menurunkan tegangan permukaan serat hingga mampu menolak air.

3.      PERLAKSANAAN PERCOBAAN
3.1          ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan :
Bahan yang digunakan :
·           Gelas piala 500 ml
·           Gelas ukur 100 ml
·           Pipet volum
·           Pengaduk
·           Nampan plastik
·           Kompor gas
·           Timbangan digital
·           Mesin stenter
·           Mesin padder
·           Setrika
·           AATCC Spray Tester
·           Kain kapas
·           Kain poliester
·           Kain polyester/kapas (P/K)
·           Silicon (A Pole AQ-88N)
·           Fluorokarbon (Eskaguard AFO)
·           CH3COOH 60%
·           BT 350
·           Dekatalys





















3.2          DIAGRAM ALIR
 
















3.3          RESEP PERCOBAAN
Larutan penyempurnaan tolak air
Resin water repellent                   = 20-80 g/L
CH3COOH 60%                          = 2 ml/L
BT 350 (resin anti kusut)              = 30-70 g/L
MgCl2.10H2O (Dekatalys)                        = 20% dari resin
WPU                                            = 65 %
Pre drying                                    = 100 0C, 3 menit
Curing                                          = 150 0C, 4 menit

Tabel pembagian resep penyempurnaan tolak air :
Kain
Resin Water Repellent
Silicon (A Pole AQ-88N)
Fluorocarbon (Eskaguard AFO)
40 g/L
50 g/L
60 g/L
40 g/L
50 g/L
60 g/L
Kapas
1
2
3
4
5
6
Poliester
7
8
9
10
11
12
P/K
*
13
*
*
14
*
Larutan pencucian
Teepol                  = 2 g/L
Na2CO3                = 2 g/L
Vlot                       = 1 : 30
Suhu                     = 80 0C
Waktu                   = 15 menit

3.4          FUNGSI ZAT
Eskaguard AFO   = resin tolak air yang akan berpolimerisasi membentuk
   lapisan film dipermukaan serat sehingga menghalangi air
   untuk meresap kedalam serat
CH3COOH 60% = memberi suasana asam agar resin dapat bekerja optimal
BT 350                 = merupakan resin anti kusut yang dasarnya adalah  polimer
   yang digunakan dalam proses kimia untuk memperbaiki
   sifat ketahanan kusut dari kain selulosa dan sintetik
Dekatalys             = katalis dari jenis garam asam yang banyak digunakan
                                pada penyempurnaan resin, menghasilkan HCl untuk
   memberi suasana asam dalam polimerisasi resin BT 350
Teepol                  = menghilangkan kotoran pada kain
Na2CO3                = memberikan suasana alkali pada pencucian, membantu
                                menghilangkan sisa-sisa zat kimia yang menempel pada
   permukaan kain

3.5          SKEMA PROSES
 










3.6          PERHITUNGAN RESEP
Larutan Penyempurnaan Tolak Air
Jumlah larutan                             = 300 ml (untuk 3 kain)
Eskaguard AFO                           = 50 g/1000 ml x 300 ml = 15 g
CH3COOH 60%                          = 2 ml/1000 ml x 300 ml = 0,6 ml
CH3COOH yang tersedia adalah 98%, jadi :
CH3COOH yang diperlukan        = 60%/98% x 0,6 ml = 0,37 ml
BT 350 (resin anti kusust)            = 20 g/1000 ml x 300 ml = 6 g
Dekatalys                                     = 20/100 x 6 g = 1,2 g

Larutan pencucian
Berat bahan         = 3,58 g
Jumlah larutan     = berat bahan x vlot
= 3,58 g x 30
= 107,4 ml
= 108 ml
Teepol                  = 2 g/1000 ml x 108 ml = 0,216 g
Na2CO3                = 2 g/1000 ml x 108 ml = 0,216 ml

3.7          CARA KERJA
·           Menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akan digunakan dalam proses penyempurnaan tolak air.
·           Melakukan uji tolak air/uji siram pada kain blanko sebagai pembanding.
·           Menghitung dan menimbang kebutuhan zat-zat kimia berdasarkan resep yang telah ditentukan untuk larutan penyempurnaan sebanyak 300 ml.
·           Menambahkan air dingin sebanyak ± 100 ml kedalam gelas piala yang telah berisi resin eskaguard AFO sambil diaduk pelahan untuk mencegah penggumpalan.
·           Menambahkan ke dalam piala gelas tersebut MgCl2 yang telah dilarutkan dengan air dingin (± 50–60 ml) sambil diaduk-aduk agar merata ke seluruh bagian larutan, lalu tambahkan resin anti kusut (BT 350) kemudian tanbahkan CH3COOH 60% dan tambahkan sejumlah air hingga volume larutan menjadi 300 ml.
·           Memindahkan larutan penyempurnaan yang telah disiapkan ke dalam baki plastik yang tersedia, lalu rendam kain di dalamnya hingga seluruh bagiannya terbasahi, dan lewatkan di antara rol-rol benam peras (padding dengan WPU 65%) sebanyak dua kali.
·           Keringkan kain (pre drying) dengan mesin stenter suhu 100 0C selama 3 menit dan dilanjutkan dengan pemanasawetan (curing) suhu 150 0C selama 4 menit dengan menggunakan mesin stenter.
·           Kerjakan penyabunan dan pencucian untuk menghilangkan sisa-sisa resin yang tidak berpenetrasi dan hanya menempel di permukaan serat agar tidak mengurangi sifat pegangan kain dan untuk menghilangkan formaldehida bebas yang masih menempel pada kain, lalu keringkan dengan mesin stenter.
·           Kain contoh selanjutnya dikondisikan untuk pengujian dan evaluasi mutu kain sebelum dan sesudah pencucian berulang berdasarkan standar pengujian yang telah dipelajari (AATCC, SNI, atau ISO). Pengujian yang dilakukan yaitu uji tolak air dengan alat AATCC Spray Tester.

3.8          DATA PERCOBAAN


Tabel 3.1 Data Uji Siram Pada Kain Kapas, Poliester, dan P/K (Resin Silikon)
Silicon (A Pole AQ-88N)
Kain
Konsentrasi
(g/L)
Nilai Uji Siram
% perubahan nilai uji siram
Awal
Akhir
Tanpa pencucian
Dengan pencucian
Tanpa pencucian
Dengan pencucian
Kapas
40
0
0
0
~
~

50
0
0
~
~

60
0
0
~
~
Poliester
40
50
50
50
0
0

50
50
50
0
0

60
50
70
0
40
P/K
40
50
-
-
-
-

50
70
50
40
0

60
-
-
-
-


Baca Artikel lainya:

0 comments:

Posting Komentar